Aku hanya butuh satu teguk saja
Agar aku bisa terlelap di sampingmu malam ini...
Karena bersamamu,
Jubah malam bagai mentari...
Menepis setiap rindu
Menjatuhkan derai desah
Bebas, melepas buas...
Lalu ku dengar satu teriakan
Kau bohong!!!
Mari pergi dari ruang hampa Ketika dinding-dinding pelindung runtuh Tak ada lagi yang penting.
Aku hanya butuh satu teguk saja
Agar aku bisa terlelap di sampingmu malam ini...
Karena bersamamu,
Jubah malam bagai mentari...
Menepis setiap rindu
Menjatuhkan derai desah
Bebas, melepas buas...
Lalu ku dengar satu teriakan
Kau bohong!!!
Aku tidak menyangka akan begini
Aku tidak mengira akan bermimpi seindah ini
Aku ingat saat diberi tahu berapa lama lagi aku akan tinggal, aku seperti sendiri di dalam savana.
Hingga akhirnya seseorang muncul.
Sebut saja namanya 'kertas datar'
Pemaksa, agresif, tidak lembut, baik hati dan tampan.
Siapa kira diriku sendiri bisa jatuh cinta dengannya?
Tapi aku pikir "Ah... Sebaiknya aku ini berusaha keras untuk menolaknya"
Ini akan konyol bagi dua orang yang berdiri ditepi tepi jurang, berusaha memulai sesuatu yang baru.
Dan lagi, aku salah...
Dengan hadirnya dia di hidupku perasaan ini tumbuh hangat, harmonis dan elegan, disaat saat terakhir aku tidak pernah merasa tinggal di sini.
Jadi ini ironis, kalau dia terus disampingku dan memberiku arti untuk tetap tinggal.
Namamu tak pernah lekang
Pada hati yang tak berbayang
Seraut wajah penuh kenangan
Dalam bingkai bingkai angan...
Senyummu masih lekat
Meski kita tak lagi dekat
Dalam hitungan yang kesepuluh
Ku dapati kau tak kembali...
Atau...
Aku harus menghitungnya sampai seratus?
Menapaki angin yang membuang
Kenang dalam ingatan
Bunga pemberianmu sudah lama layu
Tapi ku...
Aku masih menunggu tanpa jemu
Bukan aku yang bodoh
Hanya cinta ini terlalu ter'serah'
Pada hati yang entah...
Aku pasrah.
Ada baitbait syair yang tergores pada dinding hati
Kian hari kian banyak
Rapat bertumpuk pada rengkuhan
Dalam serak...
Angin membawa kabar pada daundaun yang jatuh keasalnya
Bahwa dia akan kemabali pada muara yang sesungguhnya
Pulang...
Burung burung berbisik menelisik
Membelai deru ombak yang menyibak dibibir pantai...
Menuliskan namamu...
Ada harap dalam sepi
Pada kesempatan yang sempit
Tiba tiba tegang, lalu berharap lebih
Mengingini apa yang telah pergi kembali...
Tinta ini menuliskan namamu
Pada lembar lembar kertas putih bergaris
Yang entah kenapa bayangmu tak pernah enyah...
Sedikit lupa pada bujuk
Pada rayu yang merajuk
Mengaduh, hanya untuk melihat tatap mu...
Sekilas...
Bias...
Acuh padamu tak meluntur
Membuat hati kian hancur
Lebur...
Membaur pada debu yang sombong
Gelap malam ku tak membawamu kembali
Meski raga tak lagi di sisi
Jiwamu tak pernah pergi.
Melengkapi...
Sepi.
Mencintaimu serupa debu dalam angin
Diam dalam dekapan embun dikegelapan
Meski jatuhnya tak tentu
Aku pasti sampai pada muaraku
Dalam titik temu, kita diam...
Mencintaimu serupa rintik gerimis yang singgah di kaca jendelamu
Mengering lalu lebur bersama waktu...
Hilang tanpa jejak
Kamu adalah bara dalam genggaman
Dalam potret hitam putih di atas meja...
Lusuh, namun selalu ku rindukan.
Aku harus menekan hatiku
Membiarkanmu berlalu walau sampai sesakit ini...
Bukankah cinta itu sebuah pelepasan hati,
Aku tidak akan menahan hatimu
Aku tidak ingin memaksanya tinggal jika ia ingin pergi...
Ada ragu terbaca dalam tatap
Dalam temu pada belaian tangan yang terakhir sore tadi...
Sedikit sesak, penat yang terhimpit sempit.
Aku melepas dalam bias
Dalam tatap mata yang kesekian
Sebelum aku bosan pergilah karena hanya dengan begitu aku akan terus mencintaimu.
Aku menemukan busur panahmu pangeran
Yang tertancap dipohon ara tak terlalu dalam
Lalu aku menggantungkannya disamping meja rias dalam kamarku...
Apa kau akan kembali dan mengambilnya
Atau kan kau tinggalkankan busur ini untukku...
Banyak nyawa yang tersimpan dalam do'amu
Pada bait bait puisi yang kau tulis di selembar kertas
Buram dalam pandangan
Lirih dalam bisikan
Padahalkau tau pangeran aku buta,
Dan aku tuli.
Ketika udara pagi ini berhembus
Mencumbuiku dengan dingin yang menerpa wajah
Ada rindu yang berbisik lewat daun-daun yang jatuh
Bersama dengan embun yang mengering tertiup angin...
Adakah kau masih disana mengingatku?
Mengingat kenangan saat kita bersama dulu?
Atau, hanya aku yang menggengam erat bayang wajahmu
Ditiap-tiap mimpi didunia para penyair...
Aku bahkan masih mampu melukiskan wajahmu pada awan-awan yang bergantung dilangit.
Kau...
Meninggalkan sejuta kisah tak terlupakan
Karena bersama kepergianmu, jiwaku terbelah tak kembali...
_Untuk cinta
Dengan kenangan_
Bias birunya laut
Memberi keteduhan meski mata ini terpejam
Senyummu tak terbaca ...
Tangismu apa lagi.
Tapi terimakasih
Sudah memberiku arti
Untuk pertemuan singkat ini
Kadang kita mengerti
Tentang Hati kita
Satu rasa yang sama dalam kebisuan
Debaran yang sama ...
Dan , hati yang meneriakkan satu kata yang sama
Namun , ,,
Kita juga sering tak mengerti
Kadang tersenyum dalam diam
Dan tatap mata yang melahirkan sejuta tanya...
Mungkin perasaan kita sama "Cinta "
Atau sebaliknya "Benci "
Theo .
Menyesal itu sudah terlambat...
Kata cinta Kata sayang yang terucap itu
Seperti air yang tumpah ke tanah
Hilang ...
Yang ada hanya bekas basah,
Aku tahu kita tidak akan sekuat itu
Kamu tak akan mampu menungguku
Aku juga tak begitu sanggup mencintai mu
Maaf ...
Kita tidak mungkin bersama
Ketika hati masih tersekat petak
Sepetak masalalu, harapan, dan sepetak lagi...
Entahlah?
Bagaimana Mudah melupakan kenangan
Sedang bayangnya masih kau peluk erat
Aku hanya mampu menjadikan mu sahabat
iya ...
Baiknya kita jangan berharap lebih
Aku Maupun kamu ...
_Rain
24 juni 2014